MasarikuOnline. Com, Ambon – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku terus memperkuat sinergi dengan insan media dalam upaya memperluas literasi keuangan, mempercepat akses pembiayaan, serta mencegah maraknya investasi ilegal di masyarakat.
Langkah ini diwujudkan melalui forum “OJK Maluku Bastori” yang digelar di Ambon, Senin (29/7/2025). Forum ini menjadi ajang berbagi informasi secara santai namun mendalam antara OJK dan media, sekaligus menyampaikan perkembangan terkini sektor jasa keuangan di wilayah Maluku.
“Media adalah mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang kredibel dan mudah dipahami. Transparansi informasi menjadi pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik,” ujar Kepala OJK Provinsi Maluku, Andi M. Yusuf, dalam keterangannya.
Hingga Mei 2025, sektor perbankan di Maluku mencatatkan kinerja yang solid. Aset perbankan tembus Rp34,01 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp18,28 triliun, dan penyaluran kredit tumbuh 5,73% (yoy) menjadi Rp24,17 triliun.
Menariknya, komposisi DPK didominasi CASA (Current Account Saving Account) sebesar 62,80%, dengan kredit konsumtif naik 7,55% yoy.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga menunjukkan peran besar dalam pembiayaan UMKM. Pada semester I 2025, KUR disalurkan sebesar Rp524,74 miliar kepada 11.557 pelaku usaha di Maluku.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan NPL (Non Performing Loan) di angka 3,21% secara gross.
Pembiayaan perbankan syariah tumbuh 17,18% yoy, dengan kualitas kredit tetap sehat (NPF hanya 1,11%). Meski begitu, pangsa pasarnya masih rendah yakni 2,74% dari total aset perbankan Maluku.
Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), piutang pembiayaan naik 4,43% yoy menjadi Rp1,42 triliun, dan premi asuransi jiwa naik tajam sebesar 119,65%. Namun, premi asuransi umum justru menurun 13,50% yoy.
Untuk layanan mikro, program seperti Mekaar menyalurkan Rp81,75 miliar ke lebih dari 52 ribu nasabah perempuan, sementara ULaMM tumbuh 92,69% menjadi Rp3,77 miliar.
Sektor fintech juga mencatat tren positif. Outstanding pinjaman dari Peer-to-Peer Lending naik 51,17% yoy menjadi Rp216,29 miliar, dengan jumlah borrower mencapai 29.204 orang.
Di pasar modal, jumlah investor mencapai 55.026 SID, naik 14,50% yoy, dengan nilai transaksi saham melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp299,90 miliar.
Sampai Juni 2025, OJK Maluku telah menyelenggarakan 349 kegiatan edukasi keuangan, menjangkau 83.845 peserta termasuk di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti di Pulau Geser, Seram Bagian Timur.
Inisiatif “OJK PEDULI” juga digulirkan, melibatkan pemuda, guru, tokoh agama, dan jurnalis. Rencananya, OJK akan menetapkan duta literasi keuangan dari kalangan media lokal.
OJK Maluku bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) juga aktif mendorong literasi dan pembiayaan inklusif. Sepanjang Mei–Juli 2025, delapan TPAKD menggelar rapat pleno, antara lain:
Kab. Tanimbar: Edukasi hingga tingkat RT
Kab. Maluku Tengah: Program Kredit Melawan Rentenir
Provinsi Maluku: Sinergi sektor jasa keuangan dan UMKM
Kab. Buru & SBB: Inklusi keuangan untuk petani, nelayan dan UMKM perempuan
Kab. SBT: Perluasan literasi di wilayah 3T
Kota Ambon: Penguatan ekonomi kreatif dan digitalisasi transaksi.
OJK mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur iming-iming keuntungan tidak masuk akal. Masyarakat diminta selalu memverifikasi legalitas melalui prinsip LEGAL dan LOGIS.
OJK juga bekerja sama dengan Satgas PASTI membentuk Indonesia Anti Scam Center (IASC) sebagai pusat penanganan penipuan keuangan digital. Laporan bisa dilakukan melalui situs resmi: iasc.ojk.go.id.
“Jurnalis adalah agen perubahan yang penting. Dengan literasi keuangan yang kuat, mereka bisa melindungi masyarakat dari jebakan investasi ilegal,” tegas Novian Suhardi, Kepala Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Maluku. (**)



















