“Kepemimpinan sejati tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari pengabdian terhadap kebenaran dan akal sehat.”
MasarikuOnline.Com, Ambon – Di tengah krisis fiskal dan sorotan Jakarta yang kerap berpaling, pasangan Gubernur HL dan Wakil Gubernur AV memilih bekerja diam-diam tapi berdampak. Seratus hari pertama mereka bukan parade janji, melainkan lembar awal dari kerja keras, mediasi sosial, dan diplomasi fiskal yang senyap namun strategis.
1. Dari Konflik ke Kohesi: Politik Moral yang Bekerja
Daripada menambah pasukan, HL-AV justru mendatangi warga di garis konflik: Sawai-Masihulan, Tulehu-Tial, hingga Kabau-Kailolo. Mereka membuka ruang dialog, bukan menara gading.
“Mereka tidak menjual mimpi. Mereka menambal lubang.”
Ini bukan retorika keamanan. Ini politik moral. Ini bentuk kehadiran negara yang tulus dan relevan di tengah masyarakatnya.
2. Menyelamatkan Bank Maluku-Malut: Diplomasi Fiskal yang Diam-Diam Mengguncang
Tanpa gembar-gembor, Bank Maluku-Malut berhasil masuk ke skema KUB dengan Bank DKI. Modal inti terdongkrak ke Rp3 triliun, menyelamatkan bank daerah dari ancaman degradasi jadi BPR.
“Tanpa Bank Daerah, Maluku bukan mandiri. Hanya menggantung pada belas kasih pusat.”
Ini bukan sekadar penyelamatan institusi finansial. Ini soal kedaulatan ekonomi
3. PSN di Maluku: Dari Penonton ke Pemain Catur Nasional
Tiga Proyek Strategis Nasional—Pelabuhan Terintegrasi, Bendungan Wayapo, dan Blok Masela—berhasil masuk peta nasional. Ini pertarungan epistemik: Maluku tak lagi menunggu dikasihani.
“Memutar mesin tua itu butuh waktu. Tapi kunci kontaknya sudah diputar.”
Tantangannya kini: memastikan proyek itu memberi nilai tambah lokal, bukan hanya menguntungkan konglomerat dan elit pusat.
4. Stimulus dari Pintu Belakang: Kebijakan Pajak yang Berpihak
Penghapusan tunggakan pajak kendaraan bermotor hingga 2024 bukan populisme. Ini kebijakan kontekstual, yang menghidupkan PAD dan memberi napas fiskal baru tanpa menekan rakyat.
“Di provinsi termiskin pun, fiskal bisa dikelola dengan nalar—bukan alasan ‘tak ada uang’.”
HL dan AV bekerja dengan yang ada, bukan menangisi yang tak tersedia.
5. Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat: Infrastruktur Sosial dari Akar
Rencana membangun koperasi dan sekolah rakyat bukan cuma soal program. Ini narasi politik: bahwa pembangunan dimulai dari rakyat, bukan dari menara beton.
“Koperasi adalah alat produksi. Sekolah rakyat adalah revolusi sunyi melawan ketimpangan.”
6. Birokrasi dan Kampus: Dua Poros Kedaulatan Daerah
Lelang jabatan dan reformasi ASN adalah upaya membangun meritokrasi. Sementara transformasi IAIN Ambon menjadi UIN A.M. Sangaji adalah simbol peradaban: pendidikan tinggi sebagai lokomotif pengetahuan dari timur.
“Universitas tak boleh hanya mencetak ijazah. Ia harus mencetak arah.”
Mereka Belum Selesai. Tapi Mereka Sudah Memulai.
100 hari HL dan AV bukan tentang glamor. Tapi tentang fondasi. Di tengah keterbatasan fiskal, mereka tidak menyalahkan. Mereka memilih bekerja.
“Politik akar lebih tahan lama dari politik gincu.”
Apakah semua sudah tuntas? Belum. Tapi Maluku kini punya arah, bukan sekadar harapan kosong. (**)















