OJK Ajak Mahasiswa Ambon Melek Kripto, Waspadai Risiko Investasi Digital

oleh -325 Dilihat

MasarikuOnline. Com, Ambon – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan generasi muda untuk tidak asal ikut tren investasi kripto, serta menekankan pentingnya pemahaman risiko agar tidak terjebak penipuan dan investasi ilegal di tengah pesatnya perkembangan aset digital. Hal ini disampaikan dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) di Universitas Pattimura, Ambon, Senin (4/5/2026).

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi dengan literasi yang memadai. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang menjadi korban penipuan digital maupun kehilangan aset akibat rendahnya kesadaran terhadap keamanan digital.

Menurutnya, pesatnya sektor keuangan digital saat ini juga diiringi berbagai risiko, mulai dari fluktuasi harga yang ekstrem, ancaman keamanan digital, hingga potensi penipuan. Dengan karakteristik kripto yang high risk high return, masyarakat dituntut untuk lebih rasional dalam mengambil keputusan investasi.

Adi menegaskan, keputusan berinvestasi tidak boleh hanya didasarkan pada tren atau potensi keuntungan semata. Pemahaman fundamental terhadap mekanisme dan risiko aset kripto menjadi hal yang wajib dimiliki sebelum terjun ke investasi digital.

Dari sisi pertumbuhan, perkembangan aset kripto di Indonesia menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto telah melampaui 21 juta pengguna. Sementara sepanjang tahun 2025, nilai transaksi perdagangan aset kripto tercatat mencapai Rp482,23 triliun.

Ia juga menyoroti peran penting mahasiswa sebagai generasi melek digital untuk menjadi agen literasi keuangan, khususnya dalam mengedukasi masyarakat agar terhindar dari kerugian investasi dan meningkatkan kepercayaan terhadap ekosistem keuangan digital.

Pemilihan Ambon sebagai lokasi kegiatan DFL menjadi bagian dari upaya pemerataan literasi keuangan digital di kawasan Timur Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, Provinsi Maluku masih memiliki kesenjangan antara indeks inklusi keuangan sebesar 81,04 persen dan indeks literasi keuangan sebesar 40,78 persen.

Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy, mengapresiasi kegiatan yang digelar OJK. Ia menilai edukasi kepada generasi muda sangat penting agar mampu menghadapi perubahan cepat di sektor keuangan digital dan tidak terjebak risiko kerugian.

“Perubahan di sektor keuangan saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan melampaui kecepatan regulasi. Karena itu, generasi muda harus dibekali pemahaman yang kuat agar bijak dalam mengambil keputusan keuangan,” ujarnya.

Kegiatan yang digelar secara luring ini diikuti sekitar 400 mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Pattimura, serta menghadirkan sejumlah narasumber dari OJK dan pelaku industri kripto. Melalui program DFL, OJK berharap masyarakat semakin cerdas secara finansial, aman secara digital, dan mampu berinvestasi secara bertanggung jawab. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.