MasarikuOnline. Com,Rembang – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak seluruh pemangku kepentingan meneladani semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membangun budaya kerja yang berintegritas, independen, dan berani berpikir kritis, terutama di tengah tantangan kesetaraan gender dan tata kelola modern.
Ajakan itu disampaikan Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Sophia Wattimena, dalam kegiatan Inspiring Talkshow bertema “Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas” di Pendopo Museum R.A. Kartini, Rembang, Jawa Tengah, Senin (20/4/2026).
Sophia menegaskan, perempuan kini memegang peran strategis dalam memperkuat tata kelola, baik di sektor publik maupun industri jasa keuangan. Namun, peran tersebut masih dihadapkan pada tantangan serius, termasuk isu kesetaraan dan tingginya angka kekerasan berbasis gender.
“Dalam birokrasi, sekitar 57 persen aparatur sipil negara adalah perempuan. Namun sepanjang 2025 tercatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan berbasis gender, dan sekitar 80 persen korbannya perempuan,” ujarnya.
Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi fundamental dalam membangun generasi berintegritas, mulai dari peran sebagai pendidik pertama di keluarga hingga menjadi role model dalam kehidupan sosial. Karena itu, nilai integritas harus ditanamkan sejak dini dari lingkungan keluarga.
Lebih lanjut, Sophia menyebut peran perempuan juga krusial dalam mendukung agenda prioritas pemerintah, khususnya Asta Cita terkait penguatan sumber daya manusia, kesetaraan gender, serta reformasi tata kelola dan pemberantasan korupsi.
Sementara itu, Menteri PAN-RB Rini Widyantini yang hadir secara daring menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi negara.
“Dalam tata kelola pemerintahan modern, integritas bukan sekadar nilai moral, tapi fondasi kepercayaan publik,” kata Rini.
Ia mengingatkan, tanpa integritas, kebijakan yang baik bisa kehilangan legitimasi. Sebaliknya, tanpa kepercayaan publik, institusi negara akan kesulitan menjalankan perannya secara efektif.
Rini juga menyoroti pentingnya pengelolaan konflik kepentingan sebagai bagian dari sistem integritas publik, sebagaimana didorong oleh organisasi internasional seperti OECD, G20, dan PBB. Untuk itu, Kementerian PAN-RB telah menerbitkan PermenPAN-RB Nomor 17 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Konflik Kepentingan.
Di sisi lain, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Amurwani Dwi Lestariningsih menilai perempuan masih menghadapi berbagai hambatan di ruang publik, mulai dari diskriminasi hingga stereotip gender.
“Perempuan perlu bersikap tegas dan jujur dalam meraih cita-cita, sambil tetap menjaga nilai etika dan integritas,” ujarnya.
Talkshow ini juga menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif, antara lain Myrtha Soeroto, dr. Martha Muliana, Harmusa Oktaviani, serta Nawal Arafah Yasin.
Dalam rangkaian kegiatan, OJK juga menayangkan video “Pesan Integritas Inspirasi Perempuan Indonesia” yang berisi pesan tokoh perempuan nasional terkait pentingnya integritas, keberanian, dan kemandirian.
Acara ini digelar secara hybrid dengan 220 peserta hadir langsung dan sekitar 4.500 peserta mengikuti secara daring dari berbagai kalangan, mulai dari kementerian/lembaga, DPR dan DPD RI, industri jasa keuangan, akademisi, hingga mahasiswa.
Melalui momentum peringatan Hari Kartini, OJK menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola yang bersih melalui berbagai program seperti Proud Without Fraud dan penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
Selain itu, OJK juga mendorong perempuan Indonesia, khususnya di sektor jasa keuangan, untuk aktif memperkuat budaya anti-fraud, memahami larangan gratifikasi, serta memanfaatkan Whistleblowing System (WBS) dalam melaporkan dugaan pelanggaran etik.
Langkah ini diharapkan mampu mewujudkan sektor jasa keuangan yang sehat, inklusif, dan terpercaya. (**)















