DPRD Maluku Soroti Kesiapan Pelabuhan Yos Sudarso Ambon Jelang Nataru

oleh -630 Dilihat

MasarikuOnline. Com, Ambon – Kesiapan fasilitas Pelabuhan Yos Sudarso Ambon menjelang arus mudik Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 menjadi sorotan serius Komisi III DPRD Maluku. Hasil peninjauan lapangan menunjukkan sejumlah fasilitas dasar belum siap, padahal puncak arus penumpang diperkirakan mulai terjadi pada 17 Desember.

Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wajo, mengungkapkan kepadatan penumpang di Pelabuhan Yos Sudarso dipicu oleh banyaknya penumpang dari luar provinsi yang harus transit sambil menunggu jadwal kapal lanjutan.

“Penumpang di Yos Sudarso ini banyak karena mereka dari luar provinsi dan harus transit. Ada yang bisa pulang ke keluarga, tapi banyak juga yang tidak punya keluarga di Ambon, sehingga terpaksa bermalam di pelabuhan,” kata Alhidayat kepada wartawan usai peninjauan lapangan, Selasa (16/12/2025).

Alhidayat menilai, fasilitas dasar seperti toilet, tempat mandi, tenda penampungan, hingga pos pengaduan semestinya sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Namun fakta di lapangan dinilai jauh dari laporan yang disampaikan sebelumnya.

“Laporan ke kami seolah-olah semua sudah siap, tapi kenyataannya belum. Per tanggal 16 Desember, belum siap apa-apa, padahal puncak arus Natal mulai 17 Desember,” tegasnya.

Ia mengaku menerima banyak keluhan dari penumpang, mulai dari keterbatasan toilet, tidak adanya tempat berteduh, hingga maraknya praktik calo tiket di area pelabuhan.

“Hal-hal sederhana seperti toilet, tempat mandi, dan tenda seharusnya sudah dipikirkan dari awal. Untung bukan musim hujan, kalau hujan kondisinya pasti jauh lebih parah,” ujarnya.

Selain fasilitas, Alhidayat juga mendesak agar seluruh pos pengamanan Natal segera diaktifkan untuk menampung dan menindaklanjuti keluhan masyarakat secara cepat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku, Mohammad Malawat, mengakui kesiapan fasilitas di Pelabuhan Yos Sudarso memang belum optimal.

“Kita temukan kondisi di lapangan memang belum siap sepenuhnya. Lahan sempit dan toilet terbatas. Ini akan segera kami koordinasikan, termasuk penambahan tenda dan toilet portable,” kata Malawat.

Malawat menjelaskan, penumpang yang terpaksa menginap di pelabuhan bukan hanya terjadi saat Nataru, melainkan sudah menjadi persoalan tahunan. Banyak penumpang tidak memiliki biaya penginapan atau ditolak hotel karena membawa barang dalam jumlah besar.

“Ini sudah lama menjadi catatan kami dan akan diperhitungkan dalam desain pengembangan pelabuhan ke depan,” jelasnya.

Ia memastikan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas PUPR, Pelindo, BNPB, serta aparat keamanan untuk penambahan fasilitas dan pengamanan selama periode Nataru.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami akan segera menyiapkan fasilitas tambahan, terutama di Pelabuhan Yos Sudarso,” pungkas Malawat. (**)