Mengangkat Seni Ukir “Walut” Tanimbar Yang Terlupakan

oleh -5563 Dilihat

 Oleh: Eliot Otmudy
 

Masarikuonline.Com – Sebenarnya seni pahat atau seni ukir tradisional Tanimbar, Maluku belum banyak yang tahu, padahal budaya mengukir  orang Tanimbar, baik dengan menggunakan media kayu, batu maupun material lainnya  sudah  dilakukan  sejak dahulu kala.

Jika dicermati,  seni ukir Tanimbar  terlihat menarik, bukan hanya  dari  segi estetika  melainkan  dari segi   spiritual  karena unsur ini  lebih ditonjolkan dalam berbagai bentuk dan motif atau ornamen.  Pada dasarnya,  bentuk dan motif yang dibuat  lebih  mengekspresikan  suatu bentuk komunikasi ritual spriritual antara manusia dengan Sang Pencipta langit dan bumi, dan juga penghormatan  kepada  roh nenek moyang.

Budaya mengukir  orang Tanimbar  khususnya seni ukiran patung  atau dalam bahasa setempat disebut “Walut”, walaupun  jarang kita jumpai  saat ini, namun terus  ditonjolkan  oleh Silvester Otmudy, lelaki asal Kepulauan Tanimbar  yang berdomisili di Ambon, pusat ibukota Provinsi Maluku melalui hasil karyanya.

Karya seni  ukir  yang dibuat lelaki asal Desa Amdasa ini, patut dikagumi.  Bila kita  berkunjung  ke kediamannya di OMS Atas, Kelurahan Kudamati – sekedar  untuk melihat-lihat  atau membeli  beberapa  ukiran  sebagai ole-ole atau cinderamata khas daerah Maluku untuk dibawa pulang, disana  mata kita akan terpana melihat beragam hasil karya seni ukiran patung yang terpajang. 

Pekerjaan seni ukir ini diakui sudah dia geluti sejak tahun 1990. Rata-rata ukiran patung yang dikerjakan bercorak seni ukiran tradisional Tanimbar. Ukiran tersebut masing-masing  mengandung arti dan simbol sesuai bentuk dan motif si pembuat. 

Umumnya, figur ukiran patung yang diukir mengangkat tema tentang  ungkapan syukur, pemujaan dan penghormatan. Contohnya, bentuk patung  dengan segepok sesajen dalam genggam tangan disebut   “Walut syompe”  atau patung persembahan.  Ada juga patung penjaga  atau “Walut mangajake” yang dipercaya  sebagai pelindung dan penolak bala.  “Langwa Tavu”  atau patung yang menjadi simbol leluhur awal pendiri sebuah klan atau suatu mata rumah. Dan juga terdapat patung pilar  yang menjadi simbol penguasa alam semesta, atau disebut  “Ratu mangamin medase” atau “Duan silai” serta lainnya. 

“Saya  tak mau budaya  seni ukir  patung Tanimbar  ini hilang begitu saja, jadi bentuk-bentuk ini coba saya angkat kembali melalui ukuiran – ukiran tersebut,” kata  Silvester.

Menurut pria setengah baya ini, arus globalisasi  boleh berlari tetapi budaya seni ukir Tanimbar  tak boleh ditinggalkan, sebab merupakan  sesuatu yang  begitu berharga baginya. Sehingga perlu diangkat kembali ke permukaan.  Karena ini juga  menjadi  bagian dari jati diri  orang Tanimbar – Maluku  yang tak pernah  lupa pada sejarah dan budaya asli daerah. Untuk itu,  karyanya  tak putus  dia kerjakan, agar seni ukir Tanimbar  tetap eksis  sebagai salah satu  warisan  budaya asli daerah Maluku.

Alasan lain yang mendasari  kenapa karya  seni ukir  patung Tanimbar yang nyaris punah ini terus dia tonjolkan,  mengingat  sebelum adanya  pengaruh  penyebaran  agama Kristen  di wilayah kepulauan Tanimbar  dan sekitarnya,  budaya pemujaan  kepada  Sang Pencipta  langit dan bumi (Sesuai pandangan masyarakat lokal saat itu)  serta penghormatan kepada  roh para leluhur  sudah menjadi  prioritas utama dalam  ritual  kehidupan sosial  masyarakat setempat. Itu sebabnya keberadaan media berkomunikasi spritual sangat penting.  Pemujaan dan penghormatan tersebut diekspresikan  melalui simbol-simbol  ukiran  patung  dan wujud abstrak lainnya dalam beragam bentuk. 

Akan tetapi  munculnya penyebaran  agama Kristen pada  awal abad ke- 20, ditambah  kehadiran  para penguasa  Belanda   di wilayah kepulauan Tanimbar  memaksa  terjadinya  perubahan paradigma.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa, sebagian besar karya seni ukir  patung Tanimbar  dibakar atau dibawa ke Belanda sebagai barang antik dan langka. Di lain pihak, penduduk pun secara tak langsung  digiring  meninggalkan  desa yang lama  menuju lokasi desa yang baru, dengan alasan bahwa kampung baru yang  mau diduduki  harus “bersih”  dari tata cara  dan praktek  hidup lama yang dinilai masih bersifat berhala. 

Trik ini sempat membelokkan  tradisi  kepercayaan  dan budaya  orang Tanimbar  yang sudah dipertahankan  sejak turun-temurun. Kendati demikian, terdapat generasi penerus Tanimbar yang masih mempertahankan sekaligus mengangkat unsur tradisi  dan budaya berharga yang ditinggalkan para leluhurnya hingga kini, terutama budaya seni ukir  Tanimbar yang mulai terlupakan, salah satunya  seperti upaya yang dilakukan oleh Silvester.

Baginya, mengangkat  budaya seni ukir Tanimbar semata-mata  untuk melanjutkan karya besar  para leluhur di waktu lampau, karena terdapat  sejumlah pesan berharga yang tersirat di dalamnya,  terutama bagi generasi penerus, agar tak gampang melupakan sejarah dan  budaya asli daerah, serta petingnya bersyukur dan terus memuji kebesaran Tuhan, pencipta  semesta lama, dan Sang Pemberi Hidup sekaligus menghormati  para leluhur yang  telah mewariskan  nilai-nilai luhur budaya  seperi  traidisi “Duan-lolat”  yang  selalu diaggung-agungkan  masyarakat  yang mendiami pulau –pulau terluar; yang berbatasan dengan benua kanguru itu.

“Tentunya  ukiran patung ini hanya dibuat sebagai suatu karya seni, bukan untuk disembah lagi  melainkan  untuk mengingat dan  melestarikan  budaya seni ukir  asli daerah yang mulai terlupakan. Sekarang  kita telah meyakini adanya Tuhan  Yang Maha Esa sesuai dengan iman dan kepercayaan kita masing-masing,” tandas lelaki tersebut. (JR**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.