Walikota Ambon Buka Grand Final Jukulele Festival Kota Ambon 2026 Diikuti Lima Kecamatan

oleh -7 Dilihat

MASARIKUONLINE.COM, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena secara resmi membuka Grand Final Jukulele Festival tingkat Kota Ambon tahun 2026. Kegiatan ini diikuti para peserta yang merupakan perwakilan dari lima kecamatan di Kota Ambon yang sebelumnya telah mengikuti audisi di tingkat kecamatan.

Pembukaan Grand Final Jukulele Festival tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Ambon dalam melestarikan musik tradisional sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang musik.

Bodewin mengatakan, jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon serta menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

“Jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Musik tradisional ini menggambarkan identitas kita sebagai orang-orang Ambon. Tanggung jawab kita bersama adalah terus menjaga, melestarikan, dan membudayakannya,” kata Bodewin.

Menurutnya, pelaksanaan festival tersebut juga menjadi bagian penting dalam mendukung Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang telah diakui UNESCO.
“Pengakuan Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia tidak saja membanggakan kita sebagai orang Ambon, tetapi ada tanggung jawab besar kita untuk memastikan bahwa pengakuan itu tidak sekadar pengakuan biasa-biasa saja. Pengakuan itu mesti memotivasi kita semua untuk terus menjaga dan mengembangkan ekosistem musik di Kota Ambon,” ujarnya.

Bodewin menegaskan, musik jukulele harus dapat menjadi alat pemersatu masyarakat tanpa melihat perbedaan yang ada.

“Jukulele tidak disekat oleh perbedaan-perbedaan yang kita miliki. Jukulele mesti menjadi alat pemersatu kita. Identitas Kota Ambon, musik tradisional ini mesti menjadi alat pemersatu kita untuk bersama-sama menghidupkan musik di Kota Ambon, tetapi juga membangun hubungan persaudaraan antarorang bersaudara di Kota Ambon,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan, tetapi menjadi bagian dari proses pembinaan generasi muda Kota Ambon.

Bodewin juga menantang Pemerintah Kota Ambon dan seluruh pihak terkait untuk mulai mendata para pemain jukulele di Kota Ambon, sehingga pada pelaksanaan festival tahun depan dapat ditargetkan pemecahan rekor MURI atau bahkan rekor dunia.

“Di-data semua pemain jukulele di Kota Ambon. Tahun depan kita pecahkan rekor dunia atau rekor MURI pada saat final jukulele tingkat Kota Ambon. Itu baru kita bilang jukulele pardunia, Ambon pardunia,” tegasnya.

Untuk mewujudkan target tersebut, Bodewin meminta agar kurikulum musik kembali dijalankan di seluruh sekolah di Kota Ambon.

“Sekot, ini perintah. Tidak ada lagi alasan. Apa pun masalahnya, segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” katanya.

Ia memberikan waktu satu bulan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta seluruh pihak terkait untuk mencari solusi agar pembelajaran musik dapat kembali berjalan secara maksimal.

Menurut Bodewin, pembinaan musik sejak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan musisi-musisi hebat dari Kota Ambon yang nantinya mampu tampil di panggung nasional maupun internasional.

“Kota Musik Dunia ini bukan narasi, bukan sekadar pengakuan. Tetapi mesti menjadi motivasi kita untuk melakukan berbagai hal untuk memastikan 10–20 tahun ke depan dari kota ini akan lahir musisi-musisi hebat. Mereka akan mengisi panggung-panggung nasional dan internasional,” ungkapnya.

Bodewin juga mengingatkan para peserta bahwa tujuan utama mengikuti kompetisi bukan hanya untuk menjadi juara, melainkan mengukur perkembangan, membangun semangat kompetisi, serta belajar bekerja sama.

“Tidak ada harmoni yang tercipta kalau masing-masing punya ego. Tidak ada harmoni yang tercipta kalau satu mau lebih dari yang lain,” ujarnya.

Ia berharap para peserta terus berlatih dan menjadikan musik sebagai bagian dari proses membangun masa depan.
“Paling tidak kita memaknai peristiwa final jukulele ini sebagai bagian dari usaha kita untuk anak-anak ini mengerti memaknai hidup: bekerja sama, tahan ego, ciptakan harmoni, baru mereka bisa berhasil,” tandas Bodewin. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.