Singgah Mendadak, Gubernur Maluku Temukan Harapan Kakao di Desa Namto

oleh -1781 Dilihat

MasarikuOnline.Com, Maluku Tengah — Di tengah perjalanan pulang dari Kabupaten Seram Bagian Timur, Selasa siang, 22 Juli 2025, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menghentikan iring-iringan kendaraan dinasnya. Panas mentari membakar tanah, namun langkah sang Gubernur justru menuju sebidang lahan terbuka di pinggir jalan Desa Namto, Kecamatan Seram Utara Timur Seti.

Tak ada protokol. Tak ada rencana. Yang ada hanya ketertarikan spontan pada hamparan lahan yang tengah dibuka warga desa untuk kebun kakao. Di lokasi itu, Lewerissa berjumpa dengan Kepala Desa Namto, I Made Wirawan, yang mendampingi tiga orang petani mengenakan seragam lapangan. Mereka sedang menyiapkan lahan seluas 100 hektare—bagian dari program bantuan kakao dari Kementerian Pertanian RI.

“Ini menarik. Harus didampingi terus, jangan cuma tanam lalu ditinggal,” ujar Lewerissa kepada Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda, yang turut dalam rombongan. Ia meminta agar program pendampingan tak berhenti di fase awal. “Petani harus didampingi dari hulu ke hilir sampai panen dan pascapanen. Harus ada hasil nyata.”

Program kakao di Desa Namto merupakan bagian dari upaya diversifikasi ekonomi desa-desa terpencil di Maluku. Didanai dari anggaran Direktorat Jenderal Perkebunan sebesar Rp2 miliar, proyek ini melibatkan 200 keluarga petani lokal dengan skema pemberdayaan langsung di atas lahan milik warga.

Kepala Desa I Made Wirawan mengaku terkejut dengan kunjungan tak terduga itu. “Kami tidak menyangka Bapak Gubernur akan turun langsung. Ini menjadi penyemangat besar bagi kami. Kami siap bekerja, asalkan pendampingan teknisnya terus berlanjut,” ujarnya.

Lewerissa pun mencontohkan keberhasilan serupa yang terjadi di Desa Siatele, tempat komoditas kakao mulai mengubah wajah ekonomi desa. Ia optimistis jika dikelola dengan baik, kakao dapat menjadi komoditas unggulan baru di wilayah timur Indonesia.

Kehadiran Gubernur Maluku di Desa Namto bukan hanya tentang meninjau lahan. Ia membawa serta harapan baru bagi masyarakat desa yang selama ini hidup dalam bayang-bayang keterisolasian. Di tengah pekik jangkrik dan debu jalanan Seram, kakao menjadi simbol harapan, dan kunjungan itu menjadi titik balik.

Program ini diharapkan tak sekadar menjadi proyek jangka pendek, melainkan pijakan menuju kebangkitan kakao Maluku—yang tidak hanya tumbuh di tanah, tetapi juga mengakar di kehidupan petani. (**)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.