Wutmaili Romuty Dari Ambon Raih Kalpataru 2026 Kategori Lestari “Beri Ruang Untuk Lakpona Maili eco Friendley, Biar Ilmu Sampah Berguna Bagi Maluku, Pejuang Lingkungan Minta Pemkot dan Provinsi Buka Akses Edukasi

oleh -46 Dilihat

Masarikuonline.com, Maluku kembali mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Bapak Wutmaili Romuty asal Kota Ambon dinobatkan sebagai Peraih Kalpataru Tahun 2026 Kategori Lestari. Penghargaan bergengsi lingkungan hidup itu diberikan atas konsistensi beliau membimbing masyarakat dan pemuda lintas iman mengolah sampah jadi produk bernilai guna.

Romuty dikenal luas sebagai tokoh dan pejuang lingkungan Kota Ambon. Selama 34 tahun sejak 1991, ia konsisten mengedukasi dan membuktikan bahwa sampah bukan musuh, tapi sumber daya jika dikelola dengan benar.

“Saya Mensyukuri Setiap Hal yang Tuhan Perbuat” Di kediamannya, Minggu 21/6/2026, Romuty menyampaikan rasa syukur.

“Saya mensyukuri setiap hal yang Tuhan perbuat buat saya dalam hidup ini, lewat ilmu dan konsistensi dalam berbagi dan berdaya guna bagi lingkungan,” ujarnya.

Kalpataru Lestari, jelas Romuty, bukan penghargaan akhir. Ini ujian konsistensi. “Pekerjaan namanya lestari, konsisten dia tidak stagnan tapi harus meningkat. Kalau kemarin buat satu, dia harus buat dua, tiga, dan seterusnya,” tegas penerima Kalpataru 2018 itu.

Harapan dalam capaian Kalpataru ini memunculkan harapan besar Romuty agar ilmu dan Rumah Edukasi, Lakpona Maili eco_Friendley miliknya, yang berlokasi di RT 01 RW 05 Kelurahan Batu Meja, yang merupakan Rumah edukasi teknologi sederhana untuk mengelola sampah rumah tangga
bisa dimanfaatkan Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku:

Pertama, Ruang untuk Berkontribusi, Romuty meminta izin Pemkot Ambon, Dinas Pendidikan Kota dan Provinsi agar ia bisa berbicara tentang “pengelolaan sampah berbasis karakter” ke sekolah-sekolah. “Saya cuma minta hidupkan Lakpona Maili ini saja. Supaya bisa berguna untuk Maluku, jadi pusat belajar teknologi pengelolaan sampah walau sederhana,” katanya. Sejak 1991-2018 ia merasa belum diberi ruang membantu pemerintah kota.

Kedua, Solusi untuk Daerah Kepulauan, Maluku punya keterbatasan lahan TPA. Romuty menawarkan diskusi solusi teknologi sampah untuk pulau-pulau kecil. “Saya bisa membantu berdiskusi. Mungkin fisik saya tidak mampu, tapi saya punya jaringan ribuan penerima Kalpataru se-Indonesia dan komunitas luar kota yang siap bantu,” ucapnya. Fokusnya, tiap tahun volume sampah di Ambon-Maluku bisa berkurang.

Ketiga, Adopsi Ilmu ke Pemerintah, “Orang kecil seperti saya mau meningkat apanya kalau pengetahuan saya tidak diadopsi pemerintah kota? Ini bukti orang Maluku bisa dapat kalau disiapkan dan dihargai,” ujarnya. Ia siap mengedukasi masyarakat lewat kegiatan Lakpona Maili, walau sederhana, dengan jaringan yang sudah ada.

Pesan Penutupnya, “Sebelum kita mengakhiri dunia ini, saya bisa berguna atau tidak? Walaupun tempat ini mini, tapi bisa melahirkan generasi penerus dengan tujuan baik. Intinya ilmu ini berguna atau tidak dan didukung pemerintah,” tutup Romuty.

Tak lupa saya berterimakasih sebesar-besarnya kepada Kepala Dinas dan staf DLHP Kota Ambon, yang selalu memberi dorongan dan perhatian buat saya sampai mendapat penghargaan Kalpataru 2018 dan 2026.

Untuk diketahui, Kalpataru 2026 untuk Romuty menjadi bukti anak Maluku mampu. Kini tinggal menunggu Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku membuka pintu agar “guru lingkungan” ini bisa mentransfer ilmunya lebih luas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.