masarikuOnline.com, Ambon – Pasca kebijakan Pemerintah Pusat untuk melakukan penyesuaian harga BBM yang diberlakukan di seluruh Indonesia, berimplikasi terhadap kenaikan harga transportasi, hal tersebut dimungkinkan juga terjadi kenaikan harga distribusi pada kebutuhan pokok masyarakat, sebagaimana disampaikan kepala Disperindag promal Yahya Kotta kepada media masarikuOnline di ruang kerjanya, Rabu (07/09/2022)
Kotta menjelaskan, untuk Propinsi Maluku kalau di lihat dari angka inflasi, terjadi pergeseran kenaikan di bulan Agustus 2022, itu menunjukkan ada beberapa komuditas tertentu yang harganya cukup tinggi sehingga menyebabkan tingkat inflasi naik, baik di kota Ambon maupun Maluku secara keseluruhannya.
Selain itu menurut Kotta, kondisi alam yang ekstrim, membuat beberapa komuditas yang pertumbuhannya mengalami hambatan sehingga ketersediaan stoknya terbatas teristimewa sayuran hijau ( sawi, bayam, kangkung dan cabe).
“Kondisi ini pasti sangat berpengaruh terhadap ketersediaan komuditas tersebut, sehingga memicu kenaikan harga akibat permintaan kebutuhan masyarakat terhadap komuditas itu.” jelasnya
Oleh karenanya, berdasarkan hasil kordinasi pengendalian inflasi Nasional yang dipimpin oleh Presiden, dan ditindaklanjuti oleh Gubernur Maluku, telah melakukan rapat koordinasi pengendalian inflasi tingkat Propinsi, selanjutnya menginstruksikan kepada OPD-OPD yang tergabung dalam tim TPID Propinsi Maluku, maupun tim TPID kabupaten/kota untuk bergerak mengambil langkah-langkah pengendalian inflasi.
” Kita di Propinsi Maluku telah mengambil langkah yang di kordinir oleh ketua tim TGPP telah melakukan langkah yaitu gerakan menanam cabe dan bawang, tanaman yang cepat tumbuh, melakukan neraca pangan dan Maluku satu data.” terangnya
Ditambahkannya, kami juga telah melakukan operasi pasar yang melibatkan beberapa distributor dan Bulog, dengan memperjualbelikan beberapa komuditas seperti, minyak goreng, gula pasir, beras premium, telur danbawang merah.
“Ini diupayakan untuk menekan laju kenaikan harga, sekaligus dapat menekan tingkat inflasi.” harapnya
Diakuinya, sebagai Pemerintah, khususnya di Propinsi Maluku yang hampir 90 % kebutuhan bahan pokok itu berasal dari daerah sentra (Jawa dan Sulawesi) mengakibatkan kita harus kerja ekstra agar ketersediaan bahan pokok dan harga stok itu tidak menjadi kendala atau mengalami kenaikan yang berarti akibat kondisi secara Nasional maupun lokal manakala ada terjadi hambatan dalam distribusi dari daerah sentra ke wilayah kita.
Untuk diketahui, ketersediaan komuditas seperti beras, gula, bawang merah, minyak goreng tersedia dalam jumlah yang cukup dan ketahanan nya sampai 80 hari kedepannya. Untuk telur, di akuinya memang mengalami sedikit kenaikan, hal ini bukan karena kenaikan BBM, tetapi dipicu oleh ketersediaan telur pada sentra nya di Jawa Timur yang mengalami penurunan.
Untuk itu selaku Kepala Disperindag Propinsi Maluku menghimpun kepada masyarakat bahwa stok kebutuhan komuditas bahan pokok di Propinsi Maluku tersedia dalam jumlah yang cukup sampai beberapa bulan kedepannya, namun dilihat dari sisi harga ada mengalami kenaikan disebabkan oleh penyesuaian harga BBM secara Nasional. Oleh karenanya, kepada masyarakat tetap tenang dan bersabar, ada kebijakan Pemerintah untuk mengendalikan situasi ini.
“Saya minta dari masyarakat untuk jangan membeli kebutuhan bahan pokok secara berlebihan, belilah sesuai dengan kebutuhan, jangan membeli berdasarkan keinginan, sehingga masyarakat yang lain juga punya kesempatan untuk berbelanja.” tutupnya (JR)

