Banda Neira untuk Indonesia

oleh -2448 Dilihat

Opini Oleh : Kapten Chk Dody Saputra, S.T.Han, S.H., M.H

MasarikuOnline.Com, Ambon – Kepulauan Banda adalah Pulau yang berada di Timur Indonesia tepatnya di Maluku,memiliki sejuta kisah dari masa Kerajaan,Kolonial dan Pemerintahan.

Dalam catatan Majapahit mengatakan bahwa pernah terjadi peristiwa,Raja Prabu Wijaya ke V mengalami sakit, Penyakit yang di derita adalah penyakit menular menurut tabib penyakit tersebut tidak bisa di sembuhkan, Pihak Kerajaan Majapahit sangat cemas dengan penyakit sang Prabu dan terus terdiam di dalam kamar,Pada satu hari Prabu bermimpi kalau penyakitnya sembuh harus menikahi dengan Putri dari Timur.

Menikahlah Prabu dengan Putri dari Banda Neira menjadi Istri ke-3, Setelah menikah penyakitnya sembuh dan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Bondan Kejawen.

Dalam Hikayat Lonthoir yang di tuliskan M.S Neirabaty Prabu menikah dengan Putri di Banda Neira demi kesembuhan dari penyakit yang di deritanya.

Pulau yang di incar oleh para bangsa Arab, Cina, India, Portugis, Inggris dan Belanda karena memiliki kekayaan Rempah Pala berpusat di Banda Neira.

Pada Tahun 1621 Belanda memonopoli perdagangan rempah Pala sehingga membunuh orang Banda, dan membuat pertahanan yang kokoh di Banda Neira dibangun Benteng dengan jumlah 14 Benteng, Yang masih bertahan sampai sekarang tersisa 5 Benteng yaitu Benteng Belgica dan Benteng Nassau di dalam Kota Neira, Benteng Holandia di Pulau Banda Besar Desa Lonthoir mencakup Benteng Concordia di Desa Waer dan juga di Pulau Ay Benteng Revenge.

Selain itu juga Pada Tahun 1667 terjadi Perjanjian Breda antara Inggris-Belanda isi perjanjian Belanda mengambil Pulau Rhun dari tangan Inggris sedangkan Belanda memberikan kota di New York Manhattan ke tangan Inggris karena Belanda ingin merampas Pulau Banda sehingga Pulau Rhun menjadi kekuasaan Inggris dirampas juga oleh Belanda.

Tak hanya itu saja Pejuang Kemerdekaan Indonesia yaitu Bung Hatta wakil Presiden RI pertama diasingkan ke Pulau Banda bersama Bung Sjahrir, Bung Cjipto dan Bung Iwak semuanya diasingkan di Pulau Banda.

Para ulama juga diasingkan ke Banda Neira salah satunya Kiay Imam Bukhari adalah Guru Kiay Cokroaminoto juga diasingkan di Pulau Banda dan Masih banyak lagi Para Ulama yang diasingkan ke Pulau Banda.

Pada Tanggal 24/01/2024 Banda Neira di resmikan menambah satu Kecamatan lagi yaitu Kecamatan Kepulauan Banda, Sekarang di Banda Neira menjadi 2 Kecamatan yakni Kecamatan Banda dan Kecamatan Kepulauan Banda.
Kecamatan Banda Meliputi ;
-Desa Nusantara
-Desa Dwiwarna
-Desa Merdeka
-Desa Rajawali
-Desa Kampung Baru
-Desa Tanah Rata
-Desa Pulau Ay
-Desa Pulau Rhun

Kecamatan Kepulauan Banda Meliputi ;
-Desa Lonthoir
-Desa Boyauw
-Desa Walling Spanciby
-Desa Kumber Kakastoreng
-Desa Selamon
-Desa Dender
-Desa Waer
-Desa Lautang
-Desa Uring Tutra
-Desa Pulau Hatta

Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Kepulauan Banda 75 Persen bertani yaitu menanam Pohon Pala dan Sisanya Melaut sedangkan di Kecamatan Banda Mata Pencaharian penduduk setempat 75 Persen melaut dan sisanya berdagang dan bercocok tanam.

Karakteristik Masyarakat Banda adalah menerima siapapun dan dari manapun tidak memandang suku dan agama, Berjiwa Toleransi yang sangat kuat hingga saat ini.

Mayoritas penduduk Banda beragama Muslim dan berbagai macam suku di Banda Neira, Ritual Adat dan Budaya masih tertanam hingga saat ini di Banda Neira. (JR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.