OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Global

oleh -1674 Dilihat

MasarikuOnline.Com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga kendati tensi perdagangan dan ketegangan geopolitik global terus bergerak dinamis. Kesimpulan ini mengemuka dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 28 Mei 2025.

OJK mencatat, pasar keuangan global sempat menguat menyusul dua kesepakatan dagang penting yang diraih Amerika Serikat. Kesepakatan permanen antara AS dan Inggris pada 8 Mei, serta kesepakatan sementara AS–Tiongkok pada 12 Mei, berhasil meredam ketegangan dagang yang selama ini membayangi pasar. Alhasil, volatilitas pasar menurun dan arus modal mulai mengalir kembali ke negara-negara berkembang.

Namun demikian, gejolak geopolitik yang meningkat di sejumlah kawasan tetap menjadi catatan. “Dampaknya sejauh ini masih dapat terlokalisasi dan belum mengganggu stabilitas pasar global secara luas,” demikian pernyataan resmi OJK.

Dari sisi pertumbuhan global, data kuartal I-2025 memperlihatkan pelemahan. Inflasi global yang terus menurun mengindikasikan permintaan yang melemah, mendorong bank-bank sentral dunia untuk bersikap lebih akomodatif. Beberapa di antaranya telah memangkas suku bunga, melonggarkan cadangan wajib minimum, hingga menyuntikkan likuiditas.

Meski begitu, bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memilih berhati-hati. Sikap “FFR high for longer” masih dipegang hingga ada kejelasan lebih lanjut soal kebijakan tarif dan dampaknya terhadap perekonomian. Akibatnya, pasar mengoreksi proyeksi penurunan suku bunga The Fed menjadi dua kali tahun ini—mundur dari prediksi sebelumnya sebanyak tiga hingga empat kali. Penurunan pertama kini diperkirakan terjadi pada September.

Kekhawatiran fiskal AS juga mengemuka seiring pembahasan One Big Beautiful Bill yang diperkirakan memperlebar defisit. Lembaga pemeringkat Moody’s bahkan menurunkan peringkat utang AS, mendorong pelemahan di pasar obligasi dan nilai tukar dolar.

Sementara itu, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketangguhannya. Pada kuartal pertama 2025, ekonomi tumbuh sebesar 4,87 persen secara tahunan, meski sedikit melambat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 4,89 persen. Inflasi terjaga di angka 1,95 persen dan sejumlah indikator makro lainnya menunjukkan sinyal positif: surplus neraca perdagangan, menyempitnya defisit transaksi berjalan menjadi 0,05 persen dari PDB, serta cadangan devisa yang stabil.

OJK juga menyambut baik rencana pemerintah menggulirkan paket insentif ekonomi pada Juni 2025 guna mendorong pertumbuhan. Lembaga ini menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat intermediasi, memperdalam pasar keuangan, serta mendorong pembiayaan inklusif—terutama untuk segmen UMKM.

“Dengan penguatan sektor keuangan yang stabil dan inklusif, potensi ekonomi nasional dapat lebih dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar OJK.

(**)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.