Krisis Gizi Anak di Indonesia: BPOM Dorong Industri Pangan Berperan Aktif

oleh -749 Dilihat

MasarikuOnline.Com, Jakarta – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kondisi gizi anak di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki BPOM, sekitar 80 persen anak mengalami masalah kesehatan akibat gizi buruk, baik dalam bentuk stunting, kekurangan mikronutrien, maupun obesitas.

Dalam laporan terbaru yang dikutip pada Minggu (2/3/2025), Taruna Ikrar merinci bahwa dari total anak yang diteliti, 21,6 persen mengalami stunting, 40 persen mengalami kekurangan mikronutrien seperti anemia akibat defisiensi zat besi, dan 20 persen mengalami obesitas.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi angka kelahiran anak di Indonesia mencapai 4,8 juta per tahun. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa sangat serius bagi generasi mendatang,” tegas Taruna.

Stunting dan kekurangan mikronutrien dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif dan fisik anak, sehingga berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di sisi lain, obesitas juga menjadi ancaman karena dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.

Untuk mengatasi masalah gizi ini, BPOM menekankan pentingnya peran industri pangan dalam menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kami ingin memastikan bahwa industri pangan ikut berkontribusi dalam menyediakan makanan sehat bagi anak-anak. Jika hanya mengandalkan APBN, tentu akan sulit,” ujar Taruna.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan pengawasan terhadap produksi, izin edar, hingga distribusi pangan. Hal ini bertujuan agar makanan yang beredar di pasaran memenuhi standar kesehatan dan dapat membantu menekan angka gizi buruk di Indonesia.

Pemerintah saat ini tengah menggalakkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto. Taruna menilai program ini perlu diperkuat dengan partisipasi industri pangan dan masyarakat melalui semangat gotong royong.

“Kami ingin mempromosikan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pangan agar ikut berkontribusi dalam program MBG. Dengan demikian, program ini bisa berjalan bukan hanya sementara, tetapi berkelanjutan,” jelasnya.

BPOM berharap program MBG tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah dalam jangka pendek, tetapi juga berkembang menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka Indonesia bisa mencetak generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.

“Kami ingin MBG menjadi bagian dari gerakan masyarakat. Jika ini bisa terjadi, bukan tidak mungkin program makan bergizi gratis akan menjadi program selamanya,” tutup Taruna.

Tingginya angka stunting, kekurangan mikronutrien, dan obesitas pada anak Indonesia menunjukkan bahwa masalah gizi masih menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, peran pemerintah, industri pangan, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem pangan yang sehat dan bergizi. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan secara berkelanjutan dan membawa perubahan nyata bagi generasi mendatang. (**)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.